Hari ini, seperti yang sudah-sudah, tak seperti yang akan-akan, sebab Tuhan tak sempat hadir, mungkin tak juga diberi kabar, atau rela Ia hanya menatap dalam luas lamunan

Menggertak Ancala

Dia bercerita tentang tersesatnya warna-warna
Di antara gema dinding-dinding perupa
Tempat bahari ditenggelamkan dalam nama-nama
Lalu kepada kami tabun menari
Menaksa mendung yang akan pegari
Dan retak di kering tanah yang hendak menduri

“Aku akan mengajarimu berpawai di atas rasam
Maka punggungku yang tak jadi kau sambang
Adalah dinding akhir persandaran”

Dia bercerita tentang rupa para pemandir
Yang dibiar tenggelam pada harum akar kenikir
Dan menjelma menjadi belecak partikelir
Lalu kepada kami diam meraja
Bersibunuh dengan masa lalu yang kerap melenja
Melipat buram di kertas yang mungkin menaja

“Aku sedang mengajarimu menjadi penyembunyi
Maka padu patimu dan padamku pada pedar yang serimis
Adalah dalih yang dipasak agar tetap bersinadim”

Dia bercerita tentang alegori penyelamatan
Abu yang dilepas ke utara saat apinya menyelatan
Gemerisik rantai di lantai-lantai tarian
Lalu kepada kami sunyi menyecar
Melagukan gerun dan tawa dalam lajur berbanjar
Siasati sebab mengapa bidas di tepi kian hampa dan hambar

“Aku…

View original post 24 more words

Advertisements