Annie, Sebuah Upaya Pengabadian Karakter dalam Novel Klasik

Judul : Annie
Penulis : Thomas Meehan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016 (Cetakan Pertama)
Jumlah halaman : 232 Halaman
Harga : Rp61.500

untuk-resensi

Punya sejarah panjang akan eksistensinya, Annie selalu berhasil memukau dalam berbagai bentuk karya. Lahir dari comic-strip, tumbuh menjadi drama musikal Broadway, dan menjelma dalam novel klasik yang lebih memikat.

Pada suatu hari Natal di 987 Fifth Avenue. Seorang anak perempuan berambut merah pendek mendapatkan hadiah Natal terbaiknya. Seorang ayah penyayang, sahabat-sahabat sejati yang berbahagia, serta anjing pintar berwarna cokelat kopi.

Annie adalah anak yang cerdas. Setelah menghabiskan sebelas tahun di dalam panti asuhan yang suram, ia akhirnya memutuskan untuk kabur mencari ayah dan ibunya. Keputusan ini membawanya mengalami berbagai situasi yang tak pernah disangkanya.

Gadis kecil ini melewati masa-masa sulit setelah keputusan itu. Mulai dari harus berjualan apel di stasiun kereta api, berlari menghindari polisi, bekerja di sebuah tempat makan dari pagi hingga malam, tidur di daerah kumuh, hingga pada akhirnya tertangkap lagi untuk kemudian dikembalikan ke panti asuhan. Beruntungnya, tak lama kemudian Annie segera dibawa ke rumah orang terkaya di Amerka dan dunia, Oliver Warbucks, untuk menghabiskan liburan Natal di rumahnya.

Jika menilik sejarahnya, tokoh Annie telah ada sejak tahun 1924. Pertama kali lahir ke dunia, Annie adalah pahlawan cilik dalam sebuah comic-strip berjudul Little Orphan Annie yang diciptakan oleh kartunis Indiana dan penulis Harold Gray. Comic-strip tersebut mengisi halaman surat kabar-surat kabar di Amerika Serikat selama 48 tahun.

Hingga akhirnya Martin Charnin—seorang sutradara dan penulis lirik musikal Broadway—mengajak Thomas Meehan mengadaptasi cerita Little Orphan Annie ke dalam sebuah petunjukan musikal. Saat itu, Meehan bekerja sebagai penulis cerita pendek untuk komik dan artikel berbagai majalah.

Meehan menunjukkan keseriusannya menulis cerita tentang Annie, sampai-sampai membuka kembali arsip New York Daily News, surat kabar yang selalu menjadikan Little Orphan Annie sebagai fiturnya sejak awal. Ia membaca seluruh comic-strip Annie yang diterbitkan selama 48 tahun terakhir.

Karakter Annie milik Meehan diceritakan sebagai sosok yang periang dan tangguh. Terbukti dari dirinya yang sama sekali tak pernah menangis meski semua orang mencoba menjahatinya. Ia tidak menangis saat Miss Hannigan—kepala panti asuhan—menyiksanya dengan pekerjaan berat. Tidak menangis setiap Myrtle dan anak-anak orang kaya lainnya mencerca. Bahkan tidak juga saat ia tak jadi mendapatkan atlas yang sangat diimpikannya pada hari pemberian penghargaan di sekolah St. 62. Padahal, atlas itu akan digunakannya untuk berkeliling Amerika, bahkan dunia, untuk mencari kedua orang tuanya yang hilang.

Membaca novel ini juga dapat memberikan pembaca banyak pengetahuan baru. Mulai dari latar tempat di berbagai tempat di Amerika yang dideskripsikan secara detail, hingga cerita sejarah pada masa itu sendiri. Berlatar waktu Era Depresi di Amerika Serikat di bawah pimpinan Presiden Franklin D. Roosevelt pada tahun 1933, kesulitan-kesulitan pada masa itu digambarkan secara apik dan kental serta menyatu dengan cerita.

Setelah berhasil menulis naskah, akhirnya drama musikal Broadway berjudul Annie ditampilkan pada musim semi tahun 1977. Pertunjukan itu sukses digelar dan berhasil meraih Tony Award kategori Drama Musikal Terbaik, serta enam penghargaan lainnya. Untuk kerja kerasnya menulis cerita Annie, Meehan pun mendapatkan penghargaannya sendiri untuk kategori Buku Drama Musikal Terbaik. Kisah Annie kini telah beberapa kali difilmkan. Di antaranya pada tahun 1982 yang disutradarai oleh John Huston, tahun 2014 disutradarai oleh Will Gluck.

Terlepas dari semua itu, Meehan jatuh cinta pada karakter Annie yang diciptakannya sendiri. Ia mengaku, sebenarnya karakter Annie yang dapat dinikmati dari drama musikal maupun berbagai film yang kemudian diproduksi berdasarkan ceritanya, bukanlah cerita Annie yang seutuhnya. Sebab, ketika ia menulis untuk naskah drama, sebenarnya ia menyelesaikan naskah yang lebih panjang dari yang ditampilkan. David kemudian memintanya memotong beberapa adegan karena durasi drama musikal itu terbatas—hanya dua jam.

Seluruh karakter dan cerita perjuangan Annie yang lengkap kini dituangkan Meehan dalam bentuk novel klasik berjudul sama yaitu Annie. Karya ini dibuatnya untuk mengungkapkan karakter Annie secara lebih detail dan menyertakan versi naratif semua adegan yang dipangkas dalam drama musikalnya.

Bagi Anda penyuka novel klasik, barangkali Annie dapat menjadi teman Anda sepanjang liburan Natal ini. Selamat Natal dan selamat membaca!

Tulisan ini pernah dimuat di suarausu.co.

Homesick, home..

Sepagi ini, saya sudah rindu rumah.

Sekiranya selama ini saya belum pernah merasakan apa yang orang-orang sebut homesick. Karena tak pernah berada terlalu jauh dalam waktu yang lama dari rumah, mungkin. Selama mengenyam pendidikan wajib selama sembilan tahun, destinasi harian saya hanya rumah-sekolah-rumah. Saat melepaskan seragam putih abu-abu pun, saya tak melanjutkan jenjang pendidikan tinggi ke luar kota—apalagi pulau.

Sejak berstatus mahasiswa, saya mulai sering meninggalkan rumah dan pernah pergi jauh, tapi tak lama. Paling jauh masih berada di kawasan Indonesia dan paling lama hanya dua minggu. Tak seperti teman-teman lainnya yang harus merantau untuk mendapat gelar sarjana selama tiga sampai enam tahun.

Jadi, saya tak pernah benar-benar meninggalkan rumah hingga kata rindu ada. Jadi, saya rasa saya tak begitu paham apa itu homesick.

Belakangan ini berbeda. Saya mulai paham konsep ‘rumah’ yang sesungguhnya.

Nah, itu dia. Ternyata rumah tak melulu soal di mana saya pergi tidur setelah berkelana seharian dan bangun setiap pagi untuk kemudian bergegas kembali pergi meninggalkannya. Rumah adalah tempat saya dibesarkan. Tempat tumbuh bersama orang-orang serumah. Rumah juga tempat belajar. Rumah tempat saya mulai memahami apa yang tak pernah dipahami, merasakan apa yang belum pernah dirasakan. Tempat saya tumbuh.

Meski tulisan ini saya tulis di dalam rumah yang saya tinggali sejak duduk di sekolah dasar, saya sedang merindukan rumah yang lain. Bangunan yang lain. Katakanlah, itu memang bukan bangunan milik saya. Melainkan milik universitas tempat saya ‘dibesarkan’ dua tahun terakhir.

Dua tahun terakhir. Saya memang banyak menghabiskan waktu di dua rumah. Kami—saya dan teman-teman seorganisasi—selalu menyebut tempat ini rumah. Tentu saja karena kami merasa tumbuh dan besar di sini. Berkembang menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih baik, tentunya. Kami berubah dari waktu ke waktu seiring menuanya rumah ini bersama kami.

Beberapa minggu terakhir saya tak begitu sering mengunjungi rumah kami. Lalu ada satu perasaan aneh yang menghampiri saya. Inikah homesick? Ya, saya terkena serangan homesick!

Saya rindu orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Saya rindu merawat dan dirawat rumah itu. Rindu canda, tangis, tawa, deg-degan, emosi, dan segala perasaan yang kami alami bersama. Untuk bagian ini, mungkin hanya orang tertenu saja yang mengerti—orang-orang yang pernah tinggal di rumah yang sama. Saya rindu rumah tanpa jeda itu.

Adakah mungkin rumah yang lain yang saya lewatkan? Barangkali, ada. Rumah adalah di mana ceritamu berawal. Rumah adalah di mana kau merasa nyaman menjadi diri sendiri.

Lantas, apakah selanjutnya organ tubuh manusia juga bisa saya sebut rumah? Semisal jantung atau hati, barangkali? Untuk yang satu ini, entahlah.

Tim Asatama Kembali Ikut Kontes Mobil Hemat Energi

img_7513
Ketua Tim Asatama Jackson Lokinanta menerangkan prihal persiapan Tim Asatam untuk mengikuti Kontes Mobil Hrmat Energi di Sekretariat Asatama, Kamis (27/10).| Desi Trisnasari

USU, suarausu.co — Tim Asatama kembali mengikuti Kontes Mobil Hemat Energi 2016 yang akan digelar Senin-Kamis, 1-4 November mendatang di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Ketua Tim Asatama Jackson Lokinanta mengatakan, Tim Asatama merupakan salah satu dari dua belas tim peserta yang lolos seleksi. “Awalnya kita daftarkan dua tim, dan satu tim yang lolos,” ujarnya, Jumat (28/10).

Jackson menjelaskan dua tim tersebut awalnya akan membuat dua mobil dengan tipe berbeda. Satu mobil tipe prototype atau memiliki tiga roda yang diberi nama Samosir. Sedangkan mobil kedua memiliki empat roda dan diberi nama Toba. Kedua nama tersebut dipilih untuk menunjukkan daerah asalnya yaitu Sumatera Utara.

Namun, akhirnya Tim Asatama hanya membuat mobil Samosir, sesuai dengan yang telah diloloskan panitia. Samosir dikerjakan oleh tim yang terdiri dari dua belas orang anggotasejak awal September dan baru selesai beberapa hari yang lalu. “Jadi ada dua belas orang yang akan berangkat Sabtu ini,” tambah Jackson.

Mahasiswa Teknik Elektro 2013 Ericson Valdion mengapresiasi usaha Tim Asatama. Menurutnya tim ini antusias mengikuti kontes meski baru terbentuk 2013 lalu. Ia berharap Tim Asatama bisa menang dan menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Jackson menambahkan, timnya memang optimis dan menargetkan untuk masuk dalam peringkat tiga besar dalam kontes ini. Tahun lalu, dalam kontes yang sama di Malang, Tim Asatama meraih peringkat kedelapan.

 

Diterbitkan pada 29/10/2016 di:

http://suarausu.co/tim-asatama-kembali-ikut-kontes-mobil-hemat-energi/

Ikut KMHE 2016, Tim Asatama Keluarkan Mobil Bernama Samosir

img_7513
Ketua Tim Asatama Jackson Lokinanta menerangkan prihal persiapan Tim Asatam untuk mengikuti Kontes Mobil Hrmat Energi di Sekretariat Asatama, Kamis (27/10).| Desi Trisnasari

USU, suarausu.co — Tim Asatama mengeluarkan mobil produksi terbarunya yang diberi nama Samosir untuk mengikuti Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2016. Samosir diambil dari nama sebuah pulau yang berada di tengah Danau Toba, Sumatera Utara. “Biar orang langsung tau kalau mobil kita asalnya dari sini,” ujar Ketua Tim Asatama Jackson Lokinanta, Jumat (28/10).

Jackson menjelaskan, Samosir merupakan mobil bertipe prototype—memiliki tiga roda dengan bahan bakar listrik. Mobil ini berbentuk seperti paus hitam dengan rangka berbahan aluminium dan bodi dari serat karbon. Daya baterainya yaitu 10AH dan bisa digunakan untuk menempuh jarak sembilan kilometer.

Samosir memiliki tiga keunggulan dibandingkan mobil-mobil terdahulu produksi Tim Asatama. Pertama, Samosir menggunakan transmisi rantai untuk mengatur kecepatan atau torsi maksimum yang diinginkan. Kedua, menggunakan teknologi free wheel yaitu ban akan tetap berputar saat gas dilepaskan, sama seperti ban sepeda yang akan tetap berputar ketika orang melepaskan kayuh sepeda. Ketiga, bobot Samosir lebih ringan yaitu 45 kilogram. Tahun lalu, bobot mobil buatan tim ini mencapai 60-70 kilogram. “Jadi mobil ini lebih ringan,” kata Jackson.

Jackson menambahkan, kecepatan mobil ini belum bisa dipastikan sebab joulmeter—alat pengukur kecepatan—yang dipesan Tim Asatama hingga kini belum sampai. Namun, ia berharap dalam kontes nanti kecepatannya dapat mencapai 300 Km/kwh.

Ericson Valdion, Mahasiswa Teknik Elektro 2013, menilai mobil Samosir yang dibuat oleh Tim Asatama ini lebih baik dari tahun lalu. “Konsepnya sudah bagus, apalagi sekarang jauh lebih ringan,” pungkasnya. Ia berharap mobil Samosir ini bisa menang di KMHE 2016 dan membanggakan USU.

 

Diterbitkan pada 29/10/2016 di:

http://suarausu.co/ikut-kmhe-2016-tim-asatama-keluarkan-mobil-bernama-samosir/

Sebanyak 20 Jurnalis Mahasiswa Se-Indonesia Ikuti PJTLN Jurnalisme Sejarah

img_9143a
Jurnalis mahasiswa dari sebelas lembaga pers mahasiswa di Indonesia sedang berkumpul dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) Jurnalisme Sejarah, Selasa (11/10) di Balai Pengembangan PAUD, Makassar. |Vanisof Kristin Manalu

Makassar, suarausu.co – Sebanyak 20 jurnalis dari sebelas lembaga pers mahasiswa (LPM) di Indonesia mengikuti Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) bertema Jurnalisme Sejarah. PJTLN yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Lembaga Informatika Mahasiswa Alauddin (Lima) tersebut berlangsung mulai 10 hingga 16 Oktober 2016 di Makassar. “Kita mau meningkatkan skill mahasiswa dalam peliputan sejarah,” ujar Nurfadhilah Bahar, Ketua Panitia PJTLN Jurnalisme Sejarah, Senin (10/10).

Dila menyebutkan, kedua puluh peserta di antaranya dari LPM SUARA USU dan LPM Pijar-USU, LPM Patriotik-Universitas Batanghari Jambi, LPM Bahana Mahasiswa-Universitas Riau, LPM Aklamasi-Universitas Islam Riau, dan LPM Identitas–Universitas Hasanuddin. Selain itu dari LPM Dinamika–Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, LPM Sketsa-Universitas Mulawarman, LPM Teropong- Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, LPM Teknokra-Universitas Lampung, dan Surat Kabar Kampus Ganto-Universitas Negeri Padang.

Seluruh peserta akan menjalani pelatihan dan mempelajari berbagai materi. Seperti mengenal jurnalisme sejarah, etnografi dalam penelitian sejarah, kemampuan mencari arsip, menulis mendalam dan menghidupkan data, serta sejarah dan kebudayaan Bugis. Setelah itu peserta akan melakukan observasi dan peliputan, lalu menulis laporan hasil observasi.

Sustriyanto, salah satu peserta dari LPM Aklamasi Universitas Islam Riau mengatakan dalam pelatihan ini ia mendapatkan ilmu mengenai peliputan sejarah. Namun menurutnya ada materi yang kurang dalam disampaikan oleh pemateri. “Pematerinya juga kebanyakan dosen, kalau dari nasional kan pasti lebih bagus,” pungkasnya.

 

Diterbitkan pada 11/10/2016 di:

http://suarausu.co/sebanyak-20-jurnalis-mahasiswa-se-indonesia-ikuti-pjtln-jurnalisme-sejarah/

Inyiak di Labuah

Sejak kecil, aku tak pernah kenal bapakku. Kau tahu? Bapak nikah lagi dan tidak tinggal bersama kami.

Kami, delapan bersaudara, tinggal bersama Mamak di rumah yang diberikan Bapak. Di depan rumah kami ada kolam ikan yang sama lebarnya dengan lebar rumah. Di dalamnya ada banyak sekali ikan warna hitam. Kalau ikan-ikan itu lapar, mereka bisa makan sisa-sisa nasi saat kami mencuci piring di kolam. Kalau kami lapar dan Mamak sedang tak ada uang, kami bisa makan dengan memancing ikan-ikan itu.

Namun, kolam ikan tak bisa jadi petunjuk untuk menemukan rumah kami jika kau berniat singgah. Sebab rumah-rumah di kampungku umumnya punya kolam ikan di halamannya. Oh ya, rumahku terletak di kecamatan Banuhampu, kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tepatnya di nagari Ladang Laweh.

Kalau memang mau bertandang, kau bisa cari rumah yang di sekelilingnya ditanami pohon jambu. Ada jambu bol, jambu merah, jambu air, dan jambu biji. Kalau yang ini, cuma kami yang punya. Jambu-jambu ini dijual Mamak setiap harinya. Silakan petik sendiri jika ingin membeli. Tapi kalau ada yang datang sekadar minta pun biasanya Mamak kasih.

Tadi kukatakan bahwa kami ada delapan bersaudara. Sebenarnya, saudara kandungku hanya ada empat yaitu Uni Salmah, Uni Nilda, Uni Limah, dan Uda Rahman. Kami berlima inilah anak Bapak. Sementara tiga orang lagi itu saudari tiriku. Uni Upik, Uni Hayati, dan Uni Nite, mereka anak dari suami Mamak yang pertama.

Sebenarnya pula, saudara tiriku bukan hanya tiga. Anak Mamak totalnya ada sebelas. Sisanya itu juga anak Mamak dari suami pertamanya. Namun, mereka tak tinggal bersama kami. Dua pasang anak kembar Mamak meninggal beberapa jam setelah lahir, bahkan belum sempat diberi nama. Satu anak lelakinya, Uda Sam, meninggal tercebur ke dalam sawah. Sisanya, Uda Farhan dan Uda Adi, sudah lama merantau ke kota. Setelah kuhitung lagi, ternyata anak Mamak ada dua belas.

Tentang Uda Sam, ia lahir dengan otak kecil. Sehingga saat usianya sebelas tahun, ia masih belum punya akal. Seumur hidupnya, ia hanya bisa mengucapkan satu kata; Amak.

Hari itu, ia merengek minta ikut ke sawah. Mamak tak sampai hati pula meninggalkannya. Di sawah, seperti biasa ia main-main saja menangkap belalang. Maka Mamak membiarkannya. Selesai menanam padi, Mamak lihat dia sudah tertelungkup saja di genangan air sawah. Bahkan untuk bangkit sendiri saat terjatuh pun ia tak mengerti.

Kalau Uda Farhan, setiap hari Lebaran selalu datang ke rumah. Pernah sekali ia bawa banyak emas. Rupanya ia suka mencari kayu sisa-sisa rumah yang kebakaran untuk dijadikan arang guna berjualan sate padang. Sambil mencari kayu, dapatlah ia emas-emas berserakan. Lalu dipunguti dan dikumpulkannya. Kurasa uangnya yang banyak itu karena memunguti emas, bukan lantaran sukses jualan sate.

Sementara Uda Adi, ia sudah bertahun-tahun tak pulang. Terakhir kali di sini, ia bikin onar dengan ngamuk-ngamuk di kampung tanpa sebab jelas. Dia memang sangat galak. Tersinggung sedikit saja, membunuh pun dia mau. Pernah sekali waktu, ia kesal karena ditertawakan anak kecil yang melihatnya buang air di bawah pohon. Dibawanya anak itu ke hutan lalu diceburkannya ke rawa-rawa dan ditinggalkannya begitu saja. Entah bagaimana nasib anak itu. Maka memang lebih baik dia tak usah pulang, orang sekampung ngeri melihatnya.

Kini, kami hanya tinggal bersembilan di rumah. Aku yakin tak lama lagi Uda Rahman juga akan pergi merantau. Artinya, tak ada laki-laki lagi di rumah kami.

Bapak suami kedua Mamak. Sementara Mamak istri pertama Bapak. Istri kedua Bapak juga aku tak kenal. Tapi saudari tiriku tinggal di rumah Bapak yang ada tepat di sebelah rumah kami, dia anak dari istri kedua Bapak.

Dulu, sebelum saudari tiriku membangun rumah di sebelah, tanah itu awalnya adalah sawah Bapak. Lalu sawah itu kuubah jadi kebun. Berminggu-minggu aku membajak, mencangkol, menghaluskan, dan meratakan tanahnya pakai kaki. Jadilah kebunku.

Aku tanam kentang dan terong di situ, lalu kupanen sendiri dan kujual ke pasar. Hasilnya kutabung untuk beli induk ayam.

Setelah beli induk ayam, aku ternakkan. Ayamnya kubiarkan bertelur. Setiap sore telurnya kupanen, awalnya hanya satu butir per hari. Tapi setiap seminggu sekali kujual telur-telur itu, lalu kubelikan ke induk ayam lagi. Saat induk ayamku sudah banyak, maka makin banyak pula telur yang kupanen tiap sore. Kelak uang hasil jual telur-telur itulah yang jadi tabungan untuk biaya kuliahku.

Saat tetanggaku—yang ternyata saudari tiriku—itu bangun rumah di sawahku, aku tak menanam lagi. Untuk gantinya aku beralih jadi pengembala bebek.

Aku sudah duduk di sekolah menengah pertama kala itu. Gara-gara para bebek ini, aku jadi terkenal di sekolah. Ceritanya, aku gembala bebek setiap pukul tiga sore setiap hari. Aku pakai kayu satu, ukurannya panjang. Bebek-bebek itu takut melihat kayuku. Jadi mereka berbaris rapi di jalan, tak ada yang berani lasak ke sana kemari. Selain kayu, biasanya aku bawa buku. Sampai di sawah, bebek kubiarakan bermain, lalu aku membaca sampai pukul lima sore. Jadi, setiap hari aku belajar di sawah. Lantas jadi juara pula di sekolah.

Saat hari bagi rapor, semua murid dikumpulkan di lapangan. Lalu murid juara disuruh guru ke depan. Semua orang jadi tahu siapa anak pintar satu sekolahan. Aku jadi terkenal.

Masa kecilku cukup menyenangkan, kan? Setidaknya aku punya banyak cerita untuk anak-anakku nanti.

Balik ke Bapak, begitulah Bapak. Anaknya banyak di kampung ini. Tersebar di berbagai titik. Meski pekerjaannya hanya penjahit, untunglah Bapak lumayan kaya harta. Ia punya tiga rumah dan beberapa petak sawah di kampung ini. Satu rumah untuk kami, dua lagi untuk istri kedua dan anak-anaknya. Sedangkan sawah dibagi rata.

Wajah Bapak saja aku tak tahu, apalagi suami pertama Mamak. Aku ini anak paling kecil. Jadi, tahuku tak banyak. Apalagi akalku. Saat dewasa, aku baru tahu bapakku yang mana. Jadi aku tak punya kisah yang bisa diceritakan tentang Bapak. Ia tak ada di masa kecilku dan kurasa itu cukup untuk dijadikan alasan mengapa aku harus membencinya. Tapi, tahukah kau? Ternyata Bapak orangnya pendiam, misterius, dan baik hati.

Waktu kecil, hampir setiap hari aku bertemu seorang inyiak—kakek. Perjumpaan kami selalu terjadi di dua tempat saja yaitu di warung dan di labuah—jalan. Ia selalu memberiku uang setiap kali bertemu. Terkadang lima perak, kadang sepuluh perak. Dahulu uang segitu sudah bisa beli lima kerupuk dan lima batang es lilin. Entah kenapa aku sama sekali tak takut pada inyiak meski tak kenal siapa dia. Aku senang karena ia begitu baik padaku. Setelah memberi uang, dia lantas berlalu begitu saja.

Setiap kali Mamak tanyakan siapa yang memberiku uang, aku bingung menjawabnya. “Inyiak di labuah,” itu saja jawabku. Aku baru tahu saat sudah besar, kalau ternyata inyiakadalah Bapak. Ternyata, Bapak ada di masa kecilku. Aku telah kenal Bapak sejak kecil, tapi tak sadar dia adalah bapakku.

Hanya satu kali aku pernah memanggilnya Bapak. Di rumah sakit, saat melihatnya untuk terakhir kalinya. Sebelum Bapak menutup mata untuk selamanya.