Seminggu Bersama SUJU

November lalu adalah bulan penuh berkah. Bukan, bukan karena Ramadan jatuh pada November. Hanya saja November tahun ini memang jauh berbeda dari November-November sebelumnya.

**

Minggu, 22 November lalu, pagi hari saya bangun dengan semangat berbeda. Tanpa niat bermalas-malasan lantaran itu hari Minggu. Sungguh.

Pukul sembilan pagi, saya berangkat ke Bandara Internasional Kualanamu. Saya diantar oleh Nadya Hutagalung bersama beberapa peserta Salam Ulos—Pelatihan Junalistik Tingkat Lanjut Nasional oleh Pers Mahasiswa SUARA USU. Nadya adalah salah satu peserta Salam Ulos sekaligus teman sekelas saya di Ilmu Komunikasi. Nadya yang ramah dan baik hati saat itu hendak mengantarkan teman-temannya sesama peserta Salam Ulos ke bandara untuk pulang ke daerah masing-masing. Sedangkan saya, baru akan pergi ke Padang untuk menjadi peserta PJTLN Pers Mahasiswa Genta Andalas: Sumarak Jurnalistik (Suju) 2015.

Setelah bergabung dalam grup Suju di BBM, saya mengabarkan pada panitia bahwa hari itu saya akan take off pukul satu siang di grup tersebut. Ternyata, ada tiga peserta lain dari Aceh yang akan berangkat pada jam yang sama dari Kualanamu. Bahkan, ternyata kami naik pesawat yang sama. Wah, jodoh!

Saya dan tiga peserta dari Lembaga Pers Mahasiswa Detak Unsyiah akhirnya bertemu dan berangkat bersama. Tempat duduk pun kami lobi agar bisa duduk sejajar.

Namun pesawat kami sempat delay satu jam. Akhirnya kami baru mendarat di Padang sekitar pukul tiga sore. Empat orang panitia sudah berada di Bandara Internasional Minangkabau untuk menjemput kami. Lalu kami langsung berangkat menuju Mess Unand.

Empat orang lainnya langsung menuju ke Mess, namun saya dan Dinda Triana, peserta dari Aceh, minta singgah ke Pantai Padang dahulu. Kak Wati dan Tio yang menjemput kami pun berbaik hati mengiyakan. Toh, kami memang lewat sana. Rugi pasti rasanya kalau tidak berhenti. (Iya kan, Din?)

 

IMG_0570
Indahnya matahari terbenam di Taplau alias tapi lauik alias pantai Padang.

Setelah itu kami dibawa makan di sebuah rumah makan. Ah, alangkah rindunya dengan masakan Minang.. Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di mess malamnya. Peserta yang lain sudah berada di mess dan sedang makan malam bersama. Saya mandi dan bergabung bersama mereka setelahnya untuk perkenalan. Selain memperkenalkan diri, peserta juga diminta memperkenalkan LPM masing-masing.

Besok paginya, usai sarapan kami dibawa panitia jalan menuju Auditorium Unand untuk menghadiri acara pembukaan. Untuk membuka acara PJTLN, Genta mengadakan seminar nasional yang mengundang aktor yang ngaku-ngaku imut dan lucu, Kemal Palevi.

Dalam seminar tersebut, Kemal memotivasi peserta untuk mengetahui passion-nya sejak dini dan menekuni bidang tersebut. Kemal sendiri awalnya kuliah di jurusan pilihan orang tuanya, namun ia diam-diam pindah ke Institut Seni Jakarta karena ingin menekuni bidang seni. Pada akhirnya, Kemal berpesan agar ratusan peserta yang hadir di Auditorium tersebut tidak mudah menyerah saat telah menemukan diri sendiri. And I did, though.

This slideshow requires JavaScript.

Setelah seminar, peserta kembali ke mess. Malamnya, kami diundang ke Palanta Kota Padang, Rumah Dinas Wali Kota Padang dan dijamu oleh Pak Mahyeldi, sang wali kota.

Hari Selasa, usai sarapan, materi sesi pertama langsung dimulai di ruangan yang sama. Rhino Ariefiansyah, sutradara film dokumenter dan dosen Antropolog Universitas Indonesia, menjadi pemateri kami.

IMG_3233
Ini dia nih,yang namanya Mas Rhino Ariefiansyah..

Mas Rhino menjelaskan apa itu film dokumenter. Film dokumenter adalah creative treatment of actuality atau pekerjaan kreatif atas kejadiaan nyata. Pekerjaan kreatif yang dimaksud adalah proses pembuatan film itu sendiri. Jadi, film dokumenter adalah film tentang kejadian nyata yang terjadi. Ciri-cirinya yaitu kejadian tidak direkayasa, tokoh sebenarnya bukan aktor dan tidak dibayar. Film itu sendiri bukan hanya representasi dari kenyataan, tapi juga presentasi yang didasari kehendak pembuatnya tentang sesuatu yang ditujukan kepada audiens tertentu.

Hal pertama yang harus diperhatikan dalam membuat film dokumenter adalah maksud dan tujuan film itu dibuat. Selanjutnya tema dan topik dapat ditentukan. Harapan penonton, orang-orang yang mungkin terdampak, gaya berstruktur visual, distribusi (penayangan) juga harus dipertimbangkan.

Tahapan dalam produksi film dokumenter yaitu praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Dalam tahap praproduksi, hal yang penting dilakukan adalah riset. Tujuan dari riset di antaranya untuk menentukan tokoh, membangun cerita, menentukan lokasi dan waktu shooting, dan membangun relasi dengan subjek dan tempat. Setelah melakukan riset, sutradara dapat membuat shooting script, rencana shooting, dan anggaran shooting.

Sedangkan dalam tahap produksi, yang harus diperhatikan saat shooting yaitu memilih alat, merekam video dan audio, melakukan wawancara, dan reenactment (pengadeganan). Selanjutnya dalam tahap pascaproduksi, gambar yang sudah direkam kemudian di-review dan dirapikan, lalu transkrip wawancara, editing script, dan mengedit film.

Materi di-pending untuk makan siang dan dilanjutkan setelahnya. Sebenarnya Mas Rhino masih ingin menjelaskan lebih banyak hal dari materi sesi pertama, namun waktu untuk materi sesi kedua banyak dihabiskan peserta yang bertanya hal-hal dasar mengenai teknik pengambilan video. Seperti angle, panning, dan zooming. Pun banyak yang bertanya teknik editing.

Usai makan malam, peserta berdiskusi untuk merencanakan liputan esok hari. Kelompok saya diberi spot membuat film dokumenter di Museum Adityawarman. Namun setelah mendiskusikan konsep film yang akan kami buat, kami putuskan untuk pergi ke dua tempat. Kami meminta izin panitia untuk mengambil shoot di Plaza Andalas. Setelah mendiskusikan konsep dengan Mas Rhino, kami sudah mantap dan beristirahat.

IMG_0906
Museum Adityawarman.

Rabu pagi, kami pergi ke spot masing-masing kelompok didampingi panitia. Kami naik bus andalas ke depan Unand dan lanjut dengan angkutan umum. Pukul sebelas siang, kelompok kami tiba di Museum Adityawarman dan langsung mengambil video. Lalu usai makan siang kami berjalan ke Plaza Andalas.

Usai makan malam, semua kelompok mengedit video sambil berdiskusi dengan Mas Rhino. Kami diberi waktu mengedit sampai pukul sepuluh esok paginya.

Kamis sore, semua film dokumenter buatan kami ditampilkan. Kelompok saya mengambil konsep comparison documentary, yaitu menyampaikan pesan kepada penonton dengan cara membandingkan dua hal. Di awal film, kami menampilkan suasana museum yang sangat sepi. Lalu suasana berganti menjadi keramaian di plaza. Film tersebut tidak menggunakan narasi, hanya ditambahkan backsound untuk memperkuat suasana. Dari teknik pengambilan gambar, kami hanya mengambil video secara statis. Mas Rhino mengapresiasi film kami. Katanya, sejak awal kelompok kami mengonsepkan film dengan baik. Ah, jadi malu..

Setelah itu, para peserta diminta melakukan voting untuk film dokumenter terbaik. Setelah itu dilanjutkan acara perpisahan dengan Mas Rhino karena besok paginya dia akan kembali ke Jakarta.

Saat senja, kami berjalan santai ke Gedung Biro Rektor Unand. Kalian tahu? Sunset di sana ternyata sangat indah! Betapa beruntungnya menjadi mahasiswa Unand..

Usai makan malam, peserta dan panitia berkumpul di ruang tengah untuk games. Hubungan peserta dan panitia semakin dekat.

Hari Jumat. Sarapan hari ini selesai tepat saat Mbak Elok Dyah, pemateri yang kedua sampai di mess. Mbak Elok adalah wartawan Kompas dan pendiri komunitas Backpacker Indonesia. Materi kami hari itu adalah tentang menulis feature tentang perjalanan. Namun Mbak Elok lebih banyak menceritakan pengalamannya menjadi backpacker dan pergi ke berbagai negara.

IMG_1134
Mbak Elok Dyah. Traveller sejati!

Setelah makan siang dan salat Jumat pukul 14:30 WIB kami berkumpul kembali, dan Mbak Elok masih melanjutkan cerita tentang pengalamannya. Lalu kami diberi waktu sekitar setengah jam untuk menulis. Kemudian peserta bergantian maju ke depan membackan tulisannya.

Malamnya, kami berjalan menuju gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) untuk acara penutupan. Acara ditutup dengan sepatah kata oleh Wakil Rektor III Unand dan Pembina LPM Genta Andalas. Kemudian film dan tulisan terbaik diumumkan. Film kelompok saya berada di peringkat terbaik pertama. Sedangkan tulisan terbaik dimenangkan oleh peserta dari LPM Detak Unsyiah. Setelah acara penutupan selesai, kami makan malam di PKM dan mengunjungi sekretariat Genta.

Sabtu. Hari ini peserta terlambat bangun dan harus mengantri kamar mandi. Setelah sarapan, peserta dan panitia berangkat menuju Padang Panjang. Hari ini kami fied trip. Tujuan pertama adalah Pusat Informasi Kebudayaan Minangkabau. Siangnya, kami melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi mengunjungi Lobang Jepang. Kemudian kami berjalan ke Jam Gadang, kami dibebaskan berpencar untuk jalan-jalan dan membeli buah tangan.

IMG_1341
Iseng-isengan di bus. Coret-coretan muka pakai lipstick. Suasananya jadi haru biru gitu selama perjalanan.. Kok kita kayak udah kenal bertahun-tahun gini ya akrabnya? Hihi

Malamnya, kami berhenti di Jalan Stasiun untuk makan malam. Santapan yang kami incar adalah sate padang. Kemudian kami kembali ke Padang, namun saya turun di tengah jalan karena pulang ke rumah di Bukittinggi. Saya kembali ke Mess Unand hari Senin dan kami—peserta dari Medan—diantar ke BIM oleh panitia. Genaplah seminggu saya lalui bersama Suju.

**

Info mengenai PJTLN Suju ini saya peroleh dari bagian penelitian dan pengembangan (Litbang) Pers Mahasiswa SUARA USU pada bulan Agustus lalu. Awalnya saya tidak mendaftar, namun Kepala Litbang merekomendasikan saya ikut pada hari terakhir pendaftaran. Akhirnya saya mengirimkan formulir pendaftaran malam harinya. Kemudian pada pertengahan Oktober, panitia mengumumkan bahwa saya lulus menjadi peserta PJTLN ini bersama 27 peserta lainnya.

Saya bersyukur tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Terlalu banyak berkah baru yang didapat; pelajaran. Ilmu baru mengenai film dokumenter, travelling, dan tulisan feature. Pengalaman berharga lainnya juga saya dapat dari menjalin silaturahmi dengan LPM lainnya di Indonesia. Mendapat teman baru, serta pengalaman baru tentunya. Terima kasih kepada SUARA USU yang telah memberikan saya kesempatan untuk mengikuti PJTLN ini. Hidup SUARA USU!!

 

Medan, 16 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s