Kala Ayah Pergi

 

Bak cerita Cinderella, tepat pukul dua belas tengah malam, jam tua yang menempel di dinding itu berbunyi. Tapi itu bukan pertanda aku harus segera pulang. Pakaianku pun tak akan berganti dengan sendirinya. Lagi pula, aku juga tak sedang berdansa dengan seorang pangeran tampan yang menjadi idaman semua wanita.

Meski dari kecil aku memang suka serial kartun Princess, tapi ceritaku ini bukan cerita Cinderella, Aurora, Belle, dan yang lainnya. Namun, aku tak jauh beda dari mereka, karena selama ini aku hidup bak seorang putri.

Iya, aku kan putri Ayah.

**

Ah, bahkan suara dentingan itu ternyata bukan dari jam dinding. Lagi pula jam dinding kami tidak berlonceng. Itu adalah suara piring kaleng yang dipukulkan Ayah berkali-kali ke dinding. Begitulah caranya memanggilku.

Sudah enam tahun Ayah hanya terbaring di tempat tidur karena menderita stroke. Aku yakin dia memang punya darah tinggi sebab sekarang ia pemarah. Sedikit-sedikit, ia akan membentak Ibu. Aku membencinya atas hal ini.  Bagaimana mau sembuh, Yah?

Tang. Tang. Ayah belum berhenti juga membuat keributan itu. Ibu tidur begitu lelap di sampingku. Astaga, jangan sampai Ibu terbangun karena ia terlihat sangat lelah. Aku terpaksa bangkit meski tubuhku terasa sangat berat.

“Lama sekali kau datang, Anjing!” kata Ayah saat aku membuka pintu kamarnya. Ah, seperti orang tak berpendidikan saja sarjana hukum yang satu ini. Kalau aku sudah tamat sekolah dan lanjut kuliah, aku tak mau sepertinya.

“Buatkan kopi, aku haus,” ujarnya.

Tengah malam begini minta kopi? Yang benar saja! Tahu begitu aku tak usah datang. Kukira napasnya sudah di ujung tadi. Berisik sekali!

Aku menggerutu dalam hati. Setelah memberinya minuman, aku kembali tidur dengan hati kesal. Semakin hari tingkahnya semakin menyebalkan saja.

**

Azan berkumandang. Masih belum mengganti seragam putih merah, aku berlari ke ruang tengah, hendak mengambilkan peci Ayah. Ia harus terlihat tampan saat salat Jumat di masjid. Aku memutar bola mata ke sekeliling ruangan. Nah, itu dia! Peci itu ada di laci paling atas. Tanpa ragu aku memanjat kursi untuk mengambilnya.

Aku sangat bersemangat. Hingga tubuh kecilku terhempas ke bawah. Entah bagian mana dari kursi itu yang tak kuinjak dengan sempurna tadi. Teriakanku membahana seisi rumah. Kepalaku pusing.

Tiba-tiba Ayah sudah memelukku saja. Kulihat baju koko putihnya jadi didominasi warna merah. Segera ia ambil bubuk kopi sidikalang kesukaannya dan ditaburkannya di keningku. Katanya, bubuk kopi bisa mencegah pendarahan. “Tenang, udah enggak berdarah lagi kok,” ujarnya sambil menyeka air mataku.

Ayah memang hebat. Benar saja, tak ada lagi darah yang menetes ke lantai. Tapi tetap saja aku tak mau berhenti menangis, kepalaku perih sekali. Tangisku baru reda satu jam setelahnya. Aku kecil memang sangat cengeng.

Kalau aku menangis, biasanya Ayah akan menakut-nakutiku. Katanya kalau sering menangis lama, nanti air mataku habis. Kalau habis, aku tak akan bisa menangis lagi. Nah, bukannya bagus kalau aku tak menangis lagi? Bukankah Ayah memang tak suka melihatku menangis?

Kemudian Ayah bilang kalau aku tak menangis lagi, hatiku yang akan sakit. Ah, aku bingung, tak mengerti apa maksudnya. Tak suka melihatku menangis, tapi ia malah mau aku menyimpan cadangan air mata agar bisa menangis di lain waktu. “Pokoknya kalau udah enggak sakit lagi, jangan buang-buang air mata ya, anak Ayah tersayang,” suara lembut dan pelukan hangatnya menghentikan isak tangisku.

“Seragam baruku jadi kotor, Yah. Baju ayah juga,” sesalku. Padahal baru seminggu aku resmi memakai seragam ini. Untuk anak seusiaku yang masih bermain di taman kanak-kanak, aku sangat senang memakai seragam ini.

“Tak apa, ayo kita makan sate kacang,” katanya lalu mengecup keningku.

**

Aku masih kesal mengingat makian Ayah tadi malam. Hari ini, sepulang sekolah aku tak mau menemuinya. Kamarnya hanya kulewati tanpa menoleh. Aku terlelap karena kelelahan belajar hingga sore.

Tiba-tiba, aku tersentak mendengar suara Ibu memanggilku setengah berteriak. Entah kenapa aku langsung tahu ke mana harus pergi. Kamar Ayah.

Napas Ayah terengah-engah. Tatapannya nanar ke langit-langit kamar. Aku memanggilnya, tapi ia tak menjawab sama sekali. Hanya matanya yang berkedip beberapa kali. Aku dan Ibu berzikir di sampingnya selama dua jam.

Perasaan itu mulai menyerang. Sejenak aku terdiam. Hidungku panas. Mataku perih. Meski sedang memakai sweater merah milik Ayah, aku kedinginan. Namun, tak lama kemudian peluh dan air mata sudah bercampur di wajahku.

Lidahku kelu. Aku ingin bicara banyak, tapi tertahan.

Ah, Ayah. Aku tak pernah benar-benar membencimu. Terkadang aku hanya kesal karena Ayah menyebalkan. Jangan pergi. Ayo, kita makan sate kacang. Yah…

Aku terus bicara dalam hati, berharap ia mendengar meski tak kuucapkan. Walaupun takut, kucoba menyentuh pipi tirusnya itu. Lebih dingin daripada tubuhku. Kugoncang tubuh kurusnya, tak ada respon apa pun lagi. Kini matanya tertutup rapat. Tepat pukul dua belas tengah malam, tubuh Ayah terbujur kaku di sampingku.

 

(Ilustrasi oleh: Arman Maulana Manurung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s