Namaku Soejono

 

Namaku Soejono. Aku sedang memerhatikan anak-anak muda itu. Mereka asyik tertawa, bercanda ria. Ada sekitar dua puluhan orang mengenakan pakaian yang seragam; baju putih dan celana jeans. Mereka orang kesekian yang mengunjungiku minggu ini. Setiap melihat anak muda seperti mereka, aku selalu bertanya-tanya dalam hati; apa yang ada di dalam pikiran mereka?

Beberapa tahun terakhir, semakin banyak anak muda yang berkunjung ke sini tanpa membawa buku dan pensil. Yang ada di tangan mereka hanyalah sebuah benda aneh berukuran kecil yang digenggam sepanjang jalan. Belakangan, aku tahu nama benda itu adalah handphone.

Benda itu pun tak digunakan untuk mencatat. Padahal, ada yang sepanjang jalan mengetik huruf dan merangkai kata menjadi kalimat pada benda itu. Namun, isinya bukan catatan tentang tempat ini, melainkan hanya sebuah catatan pesan untuk orang lain. Ya, kadang aku memang suka memerhatikan karena ingin tahu perkembangan zaman.

Anehnya lagi, mereka juga sibuk bergaya di setiap sudut rumah ini dan mengambil foto. Mataku sering silau terkena cahaya dari lampu benda itu. Ah, dasar anak zaman sekarang. Mereka bandel sekali.

Seperti biasa, aku lebih suka mengawal anak muda berkeliling di rumah ini. Sementara tamu yang lain, kupercayakan pada pemandu wisata lainnya. Anak-anak muda berpakaian seragam ini terlihat sangat akrab. Tetapi, seragam mereka bukan seragam sekolah, aku mengira mereka bukan satu sekolahan. Lagi pula, mereka terlihat sudah dewasa.

Aku terus saja mendampingi mereka berkeliling. Namun, tak satu pun yang bertanya padaku mengenai tempat bersejarah ini. Pantas saja aku diacuhkan, beberapa dari mereka ternyata tinggal di kota ini dan sudah pernah beberapa kali ke sini. Salah satu dari mereka lalu berperan menjadi pemandu.

Mereka sempat mengunjungi kamarku. Sebenarnya aku malu karena kamarku sangat kecil, tak ada lampu, tak ada kasur apa lagi selimut, dan dingin karena becek. Mungkin sangat berbeda dengan kamar mereka. Kunjungan ke kamarku hanya sesaat, mereka segera keluar dengan gelisah.

Masih seperti saat baru masuk dari pintu depan—yang sebenarnya tanpa pintu, mereka terus bercanda sepanjang kunjungan ini. Hingga akhirnya saat kunjungan hampir berakhir, kudengar salah satu dari mereka bertanya, “Kita akan ke sini sama-sama lagi suatu hari nanti, kan?”

“Iya, pasti! Nanti kita reuni di sini lagi,” jawab temannya. Anak muda lainnya ikut mengamini hampir serentak.

Dari pembicaraan mereka selanjutnya, kuketahui ternyata mereka baru kenal selama satu minggu dalam sebuah pelatihan jurnalistik. Sudah seminggu mereka habiskan bersama di kampung halaman Bung Hatta ini dalam pelatihan tersebut dan ternyata ini adalah hari terakhir mereka bersama.

Sebelum keluar, mereka berfoto bersama di depan salah satu ruangan yang cahayanya remang-remang; penjara. Sebenarnya, ruangan ini aku buat dengan tanganku sendiri. Aku ikut saja berdiri di sebelah mereka, berharap bisa terlihat dalam foto itu.

Tiba-tiba, salah satu dari mereka mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Aku kaget. Baru kali ini kulihat ada pemuda yang membawa benda itu ke sini; bendera merah putih.

Mereka bentangkan bendera itu dan berfoto bersama. Lagi-lagi, aku ikut berfoto bersama mereka. Aku berdiri tegap dan hormat kepada bendera itu. Entah karena melihatku atau bukan, mereka semua melakukan hal yang sama. Air mataku berlinang. Rasanya ingin kupeluk semua anak muda ini satu per satu. Tapi jelas mustahil.

Akhirnya mereka keluar dari rumahku ini, aku mengantar mereka ke depan. Kutatap mereka satu per satu. Cahaya dari luar menelan tubuh mereka, menghilang dalam sesaat.

***

Namaku Soejono. Aku berdarah Jawa, tapi puluhan tahun yang lalu, aku dan teman-teman dibawa ke Bukittinggi dengan paksa. Kemudian kami dipaksa berkerja di sini. Di dalam goa bawah tanah yang gelap dan basah, orang-orang bermata sipit dan berkulit pucat itu terus memaksa. Kami takut menolak, sebab berbagai macam senjata selalu mereka bawa di tangan dan cadangannya disimpan di ruang amunisi.

Adalah kami yang membangun lorong bawah tanah di Minang ini. Siang malam kami menggali dan memahat, sampai-sampai aku kehilangan tiga kuku jari tanganku. Dengan kaos dan jaket tipis, dinginnya malam menusuk tulang kami karena tanah-tanah basah ini. Dahulu, lorong ini jauh lebih dingin dari udara Bukittinggi di pagi hari.

Tak ada kesempatan melihat cahaya matahari di sini. Kami tak dibolehkan keluar. “Kerja, kerja, dan kerja! Gali, gali, dan gali!” teriak mereka.

Aku terus melakukan apa yang mereka perintahkan. Bukan karena takut, aku hanya ingin segera keluar dan menemui Ibu di rumah. Itu janji mereka. Tekadku, selepas dari sini, aku akan melawan mereka. Sembari menggali aku selalu memikirkan berbagai macam strategi gila untuk bisa keluar dari sini. Juga untuk bisa mengalahkan mereka dan memerdekakan semua orang. Memerdekakan negara. Inilah yang anak muda seumuranku pikirkan di masa itu.

Suatu malam aku merancang strategi bersama temanku Marjuki untuk mencuri senjata di ruang amunisi. Pukul tiga pagi, kami melancarkan aksi saat penjaga berkulit putih itu tertidur. Paginya, kami mulai menusuki beberapa penjaga agar bisa keluar. Tak mudah ternyata, beberapa temanku ditembak. Sedangkan aku dimasukkan ke penjara yang kubuat dengan tanganku sendiri.

***

Lamunanku buyar saat anak muda yang membawa bendera tadi kembali masuk. Apa dia lupa sesuatu? Sepertinya tidak. Dia hanya berdiri di tangga masuk itu. Sementara aku berdiri sejajar dengannya. Jarak kami mungkin hanya tiga meter. Aku menatapnya. Sekali lagi, ia memotret suasana di dalam goa ini. Ah, ataukah ia sedang memotretku?

Sepertinya anak muda ini seumuran denganku saat aku harus rela menghembuskan napas terakhir di sini. Tak usahlah kuceritakan bagaimana aku meregang nyawa, kau tak akan kuat mendengarnya. Aku saja masih sangat perih mengingatnya hingga sekarang. Namun, satu hal yang tak pernah kusesali sebab aku mati dengan rasa bangga. Aku masih bertanya-tanya apa kiranya yang ada di dalam pikiran anak muda zaman sekarang.

Namaku Soejono. Kini aku tinggal di Lobang Jepang ini untuk selamanya. Ah, aku lebih suka menyebut tempat ini goa. Sebab kami memang seperti binatang yang bersembunyi di sini. Namun, tak pernah kusesali karena aku berjuang untuk kemerdekaanmu. Apakah mereka, para penerusku, juga mencintaimu, Indonesiaku?

Tulisan ini pernah dimuat di suarausu.co.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s