Mejuah-juah, Rektor Baru USU

2-1-696x464
SUMPAH JABATAN| Ketua MWA Prof Todung Mulya Lubis melantik Prof Runtung Sitepu sebagai rektor USU periode 2016-2021 di Auditorium USU, Kamis (28/1). Setelah pelantikan ini maka Prof Runtung dapat memulai tugasnya sebagai rektor. | Dewi Annisa Putri

 

Ia telah dibesarkan oleh USU. Kini, saatnya ia yang akan membesarkan almamaternya. Ialah Prof Runtung Sitepu, Rektor USU Periode 2016-2021.

“Sudah lama dia mempersiapkan diri jadi rektor, sudah bertahun-tahun lalu,” buka Farida Runtung Sitepu, Istri Prof Runtung Sitepu saat ditanya ihwal niat suaminya yang ingin menjadi rektor.

Hari itu, 28 Desember merupakan hari pertama pembukaan pendaftaran bakal calon rektor. Prof Runtung Sitepu—masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum—sengaja menyambangi ruang MWA di lantai III Biro Rektor USU. Tujuannya satu, guna menuntaskan niatnya untuk menjadi Rektor USU. Prof Runtung pun menjadi orang pertama yang mengambil formulir pendaftaran bakal calon rektor.

Mundur sedikit, kekosongan jabatan Rektor USU ini telah mencapai puncak. Hal tersebut mendorong Majelis Wali Amanat (MWA) untuk segera membentuk Panitia Penjaringan dan Penyaringan Calon Rektor (P3CR). Jadilah proses penyeleksian terhadap pejabat eksekutif USU ini dimulai. Sebelumnya, jabatan ini sementara dipegang oleh Pejabat Rektor Prof Subhilhar.

Kembali ke MWA, pendaftaran bakal calon rektor ini memakan waktu sebelas hari dan berhasil menjaring sembilan nama. Selain berkas Prof Runtung, ada berkas Pejabat Rektor Prof Subhilhar, Wakil Rektor I Prof Zulkifli Nasution, Wakil Dekan III Fakultas Hukum OK Saidin, Guru Besar Fakultas Teknik Rosdanelli Hasibuan, Ketua Program Studi Etnomusikologi Muhammad Takari, Pimpinan Pusat Inkubator Bisnis Cikal Ritha F Dalimunthe, Staf Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sumatera Utara Mahrum Syahri Lubis, dan Tumpal Halomoan S Siregar dari Badan Penelitian Sei Putih.

Kesembilan berkas tersebut kemudian diseleksi MWA dalam rapat pada tanggal 12 Januari.

Selanjutnya konferensi pers digelar guna mengumumkan nama-nama yang berhasil lolos berkas. Nama Prof Runtung kemudian lulus seleksi administrasi bersama tujuh bakal calon rektor lainnya. Ada satu pendaftar yang tidak lulus yaitu Tumpal. Ketua MWA Prof Todung Mulya Lubis mengatakan berkasnya tidak lengkap; ia tidak melampirkan surat izin dari pimpinannya.

Tahapan berikutnya, pada 18 Januari adalah pemaparan visi dan misi bakal calon rektor, tahap yang krusial ini diikuti seluruh nama yang telah lolos seleksi berkas.

Ribuan orang duduk di sana. Mereka berasal dari berbagai macam kalangan dan usia. Civitas akademik serta pejabat tinggi hadir di auditorium untuk menyaksikan pemaparan program kerja (progja) calon pemimpin USU. Semua memperhatikan, beberapa mencatat, mempersiapkan diri untuk memberikan pertanyaan di akhir pemaparan. Di akhir pemaparan salah seorang civitas akademik bertanya ke Prof Runtung, “Kalau civitasakademik USU yang dekat dengan bapak melakukan korupsi bagaimana?”

“Tentu saja akan kita tindak sesuai hukum,” tegas Prof Runtung.

Setelah itu, kedelapan bakal calon rektor kembali disaring menjadi tiga calon rektor. Kali ini, Senat Akademik (SA) yang berperan. Dalam rapat pada 19 Januari, semua anggota SA sebanyak 94 orang memberikan suaranya. Dari hasil pemungutan suara, tiga calon rektor terpilih di antaranya Prof Runtung dengan 45 suara, Prof Zulkifli dengan 42 suara, dan Prof Subhilhar dengan 7 suara. “Tiga nama itu mendapat perolehan suara terbanyak,” ujar Prof Chairul Yoel, Ketua SA usai rapat.Tidak ada anggota yang abstain. Sedangkan lima bakal calon rektor lainnya tidak mendapat suara.

pemaparan-696x507
Pembacaan| Pemaparan calon rektor Prof Runtung Sitepu di Auditorium, Senin (18/1). Dalam pmaparannya ia berjanji akan berusaha memperbaiki akreditasi USU.| Vanisof Kristin Manalu

Sebagai calon yang paling banyak perolehan suaranya, Runtung mengatakan akan terus melanjutkan visi dan misinya. “Membangun USU,” katanya usai diumumkan sebagai calon rektor.

Selanjutnya tiga nama tersebut diserahkan oleh SA ke MWA untuk dilakukan pemilihan dan penetapan rektor pada 21 Januari.

Pukul 11.00 WIB sampai 15.00 WIB Gedung Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Jakarta dipenuhi anggota MWA USU. Mereka sengaja hadir karena proses pemilihan Rektor USU berlangsung di sana. Ada dua puluh satu anggota MWA, tapi hanya dua puluh orang yang hadir. Satu orang tidak hadir dari wakil masyarakat Tina Tanoto karena menghadiri Konferensi Internasional Davos.

Meskipun satu anggota MWA tidak hadir, pemilihan rektor tetap dilangsungkan. Hal ini dikarenakan syarat minimum MWA untuk melakukan pemilihan harus dua per tiga dari jumlah anggota.

“Anggota MWA kan ada 21, maka tujuh belas orang pun sudah bisa,” sampai Sekretaris MWA Fahmi Natigor Nasution.

Dalam pemilihan ini hak suara dibagi dua, yaitu 65% untuk MWA dan 35% suara untuk Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir. Suara MWA ini dibagi berdasarkan jumlah anggota yang hadir, saat itu setiap suara anggota MWA memiliki bobot 3,42% per orang.

Pemilihan ini berlangsung dengan aman dan kondusif. Sebelum melakukan pemilihan, anggota MWA dan Menteri membahas kembali progja setiap calon rektor.

Sistem pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara yang saat itu berlangsung di Jakarta. Setiap orang diberikan satu surat suara dan berhak memilih siapa saja.

Akhirnya Prof Runtung memenangkan suara terbanyak dan unggul dari Prof Zulkifli dan Prof Subhilhar. Prof Runtung memperoleh 62,38%, sementara Prof Zulkifli dan Prof Subhilhar masing-masing memperoleh 27,36% dan 10,26%. Pada 21 Januari lalu, Prof Runtung pun terpilih menduduki bangku Rektor USU yang akan menjabat untuk masa lima tahun mendatang.

Kabar mengenai terpilihnya rektor anyar ini sempat menarik banyak perhatian civitasakademik terutama mahasiswa. Salah satunya Irvin Saut Tua Sihombing, Mahasiswa Fakultas Hukum 2013. Irvin mengatakan Prof Runtung Sitepu adalah sosok yang tidak akan pernah bisa tergantikan. Sosoknya yang bersahabat membuat mahasiswanya sangat menyukainya. Dia mau mendengar keluhan mahasiswa. Saat ikut lomba debat hukum nasional di Padang, Irvin juga mendapat bantuan dari Prof Runtung. “Waktu aku lomba, dia yang bantu,” katanya.

Saat dia menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum, Irvin bilang Prof Runtung sering mendukung dan mendorong semua mahasiswanya agar mengikuti olimpiade dan lomba debat hukum nasional. Dia juga salah satu dosen di FH yang sering memperkenalkan mahasiswa kepada temannya. Hal itu dimaksudkan agar mahasiswanya punya banyak relasi untuk berkerja.

Saat ini, Irvin sangat kehilangan sosok Prof Runtung. Apalagi selama sepuluh tahun menjabat sebagai dekan, Prof Runtung berhasil membawa Fakultas Hukum mendapat akreditasi A. Walaupun hal itu bukan pencapaian satu orang saja. Tapi di sisi lain, Irvin berharap dengan terpilihnya Runtung sebagai rektor bisa membawa perubahan positif di USU. Irvin juga berharap, Prof Runtung bisa memberikan akreditasi A untuk USU. “Meskipun sekarang sudah dua bulan ia menjabat tapi belum terlihat hasil kerjanya,” kata Irvin.

“Dia sosok yang ramah, senang berkomunikasi, akrab serta mudah bergaul,” nilai Prof Subhilhar melihat kepribadian Prof Runtung. Prof Subhilhar mengatakan, ia sudah kenal lama dengan Prof Runtung saat dirinya masih menjadi dosen di fakultas.

Hal tersebut juga diamini Prof Zulkifli, namun ia mengatakan dirinya tidak terlalu tahu secara pribadi sosok Prof Runtung sendiri. ”Saya berteman baik, namun tak begitu tahu pribadinya,” imbuhnya.

8

“Dengan program-program yang sudah disiapkan oleh Prof Runtung, saya percaya USU ini akan lebih baik,” ujar Prof Subhilhar saat ditanyakan tanggapannya tentang terpilihnya Prof Runtung menjadi rektor. Pun, melihat jejak jabatannya yang telah dua periode menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum dengan capaian akreditasi paling baik, Prof Subhilhar tak meragukan apa pun.

Hanya saja yang paling penting adalah, Prof Subhilhar berharap dengan apa yang dijanjikannya untuk universitas ini harus bisa konsisten dan melakukannya dengan sebaik mungkin. Selain menjalankan progrja yang akan direncanakan, sebenarnya Prof Runtung sudah lebih mudah dengan melanjutkan program-program USU yang belum sempat terselesaikan, sebagaimana yang tertera dalam Rencana Strategis (Renstra) USU.

Senada dengan Prof Subhilhar, Prof Zulkifli pun katakan hal serupa, ia berharap agar visi-misi yang sudah disampaikan dapat dilaksanakan dengan baik. “Tinggal bagaimana cara ia menjalankannya saja,” pungkas Prof Zulkifli.

Fahmi bilang Prof Runtung adalah orang terbaik dari tiga orang terbaik yang dimiliki USU. Sehingga ia percaya bahwa Prof Runtung bisa memimpin USU ke depan. Apalagi saat ini USU sedang menghadapi banyak masalah besar seperti akreditasi.

Untung ada Runtung

Syafruddin duduk di meja kerjanya. Ia mulai bercerita mengenai rektor yang telah menjadi rekan kerja sekaligus temannya selama tujuh belas tahun. “Sesuai dengan namanya, kalau kita bersama dia, pasti akan beruntung,” ujar Wakil Dekan II FH tersebut.

Senyumnya mengembang. Ia teringat pernah kepenuhan tempat parkir saat pergi bersama Prof Runtung. Namun, bertepatan dengan kedatangan mereka, mobil lain keluar dan akhirnya mereka memarkirkan mobil di sana. Cerita lainnya hampir serupa. Bertepatan dengan kedatangan mereka di stasiun kereta api, kereta tersebut langsung tiba.

Syafruddin juga ingat, jika mereka pergi ke luar kota, pasti ada saja yang datang untuk menjemput. “Dia sangat pandai bergaul, temannya banyak,” kata Syafruddin.

Farida membenarkan kalau Prof Runtung adalah orang yang humoris. “Meskipun banyak pikiran karena kerjaan, kalau di rumah selalu bercanda sama anak dan cucu,” ujarnya. Selain itu, Farida mengatakan, Prof Runtung memang sosok yang sederhana dan mau menerima siapa saja. Namun, tambah Farida, sejak menjadi rektor kesibukan Prof Runtung saat ini berlipat ganda.

Kesibukan Prof Runtung agaknya terbukti. Ajudannya yang biasa dipanggil Arif bilang rektor sangat sibuk dengan tamunya. “Audiensi mahasiswa saja juga enggak jadi tadi, padahal sudah ditulis di jadwal,” terang Arif setiap SUARA USU ingin menemui Prof Runtung untuk wawancara.

Farida menjelaskan, kesibukan suaminya karena sedang fokus membangun USU. “Karena dia tuh mau jadi rektor bukan karena gila jabatan, tapi mau menyumbangkan pemikiran terbaiknya,” tutup Farida dengan senyum.

Koordinator liputan      : Dewi Annisa Putri

Reporter                       : Santi Herlina, Deli Listiani, Muhammad Renu Fatahillah, dan Dewi Annisa Putri

Tulisan ini pernah diterbitkan di Tabloid Pers Mahasiswa SUARA USU Edisi 2016.

Diterbitkan di Tabloid Pers Mahasiswa SUARA USU Edisi 106.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s