Pertemuan


Kalau aku tak salah ingat, saat itu hari Rabu. Kita bertemu di sore yang damai. Kau menunggu di sudut kafetaria dengan buku-bukumu. Ah, betapa aku selalu menyukai pemandangan seperti ini. Lelaki dengan kacamata dan buku, namun punya selera musik dan humor yang bagus. Perpaduan itu membuatmu menjadi pribadi yang cerdas namun tak membosankan.

Itu kali pertama kita bertemu lagi setelah tujuh tahun berlalu. Seharusnya aku tak langsung mengenalimu. Setidaknya, seharusnya mataku liar mencari-cari ke seluruh sisi ruangan. Lalu saat kutemukan sosok yang mirip denganmu, aku akan memperhatikan lekat untuk memastikan. Tapi, ternyata tak sesulit itu.

Aku masuk dan langsung berjalan ke arahmu, sesekali memperbaiki rambut yang berantakan. Tadinya, aku mengucir rambutku dari rumah. Namun kulepaskan karena rasa tak percaya diri yang tiba-tiba datang. Kau pasti paham itu, semua perempuan ingin tampil sempurna di depan lelaki yang dipuja.

Akhirnya aku sampai di mejamu. Kau tersenyum dan mempersilakanku duduk. Secangkir kopi panas—kulihat asapnya bergumpal di udara—bertengger di depanmu. Kutebak kau pasti belum lama tiba. Pesananmu baru saja dihidangkan.

Untuk beberapa detik yang canggung, kita berdua terdiam. Aku pura-pura sibuk menatap menu, memilih apa pun yang nikmat untuk dipesan. Kau juga berpura-pura sibuk merapikan buku-bukumu di meja yang kecil itu. Di dalam pikiranmu, kau sudah menebak apa yang akan kupesan. Kurasa, hatimu girang karena setelahnya tebakanmu benar. Ada senyuman kecil di sudut bibirmu saat aku juga memesan secangkir kopi.

Tiba-tiba, kita berdua tersadar ini adalah pertemuan dengan seorang teman lama. Bukan dengan seorang teman baru dengan niat tertentu. Kita tergelitik mengingat tingkah masing-masing selama sepuluh menit terakhir. Seharusnya tak ada yang membuat kita canggung, bukan?

Percakapan pun dimulai. Kita bercerita tentang kehidupan masing-masing selama tujuh tahun tak berjumpa. Sesekali kau mengeluarkan lelucon kecil dan aku tertawa sejadi-jadinya. Lalu aku ceritakan pekerjaanku dan kau menyemangati. Terkadang, kita membicarakan hal yang sama sekali tak penting untuk dibahas.

Kau dan aku, tak ada yang berubah. Kita bicara selama berjam-jam, ditemani dua cangkir kopi yang diam-diam saling menatap dan mengungkapkan rasa.

 

Advertisements

One thought on “Pertemuan

  1. Reblogged this on ahyunimiwa and commented:
    Another story for #Proyek30Hari

    Itu kali pertama kita bertemu lagi setelah tujuh tahun berlalu. Seharusnya aku tak langsung mengenalimu. Setidaknya, seharusnya mataku liar mencari-cari ke seluruh sisi ruangan. Lalu saat kutemukan sosok yang mirip denganmu, aku akan memperhatikan lekat untuk memastikan. Tapi, ternyata tak sesulit itu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s