Demon

Pinterest.com

Saat ini saya sedang dikejar waktu. Ada hal yang lebih penting harus saya kerjakan. Tidak, bukan saya mengatakan menulis itu tak penting. Tapi karena kali ini saya masih harus menulis tentang cinta, saya rasa masih banyak hal yang lebih penting dari ini.

Kamu tahu kenapa? Karena cinta memuakkan. Saya tak lagi paham apa itu cinta—entahlah apakah saya pernah benar-benar memahaminya—yang dikatakan orang-orang. Saya rasa cinta hanyalah sebuah kata yang diciptakan manusia untuk mempermainkan manusia itu sendiri. Sialnya, saya jadi penasaran siapa gerangan orang pertama yang menciptakan kata ini. Dia tak menyadari betapa ceroboh dirinya.

Selama ini, saya melihat semua orang di luar sana begitu bergantung pada satu kata ini. Ada yang senyam-senyum tak waras, menangis sejadi-jadinya, tertawa segila-gilanya, meratap tersedu-sedu, dan bahkan mulai saling membenci dan membunuh satu sama lain. Semuanya karena si cinta itu. Betapa hebatnya dia.

Saya pernah jadi salah satu dari mereka. Menjadi korban dari sebuah ilusi bernama cinta.

Saat merasa cinta berada di pihak saya, saya merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Merasakan bahagia yang paling membahagiakan daripada yang pernah saya rasa seumur hidup. Cinta juga berhasil mengubah saya. Saya jadi selalu ingin terlihat sempurna, meski banyak yang bilang tak ada makhluk yang sempurna. Setidaknya, saya berusaha memperbaiki penampilan, yang pada akhirnya hanya membuat saya tak menjadi diri sendiri. Sial, kenapa saya harus semenurut itu pada cinta?

Tepat di saat saya merasakan bahagia yang paling membahagiakan itu, cinta tertawa. Lalu ia merenggut semuanya. Cinta membalikkan keadaan. Memutar dunia dan menghancurkan saya tanpa memberi ampun. Saya kasihan pada diri sendiri. Cinta sudah berkali-kali menipu.

Saat ini, saya tak merasakan apa-apa lagi. Saya bersusah payah bangkit setelah diremukredamkan cinta. Namun rasa khawatir mulai menghampiri. Khawatir kalau-kalau sebentar lagi cinta akan kembali menjebak. Cinta itu licik. Ia pandai merayu. Ia menyapa perlahan dan membuai. Kapan pun ia mau. Kini ia pasti masih mengincar saya dan semua orang. Sepertinya cinta adalah monster sesungguhnya. Mungkin dia semacam alien, ilusi roh jahat yang sudah berkembang biak melebihi jumlah manusia. Ia ada di mana-mana. Mengintai dan bersiap menikam siapa pun.

Entahlah, saya sudah muak. Sudah saya katakan, tak ada waktu untuk membahas cinta.

Advertisements

2 thoughts on “Demon

  1. Itu tidak benar…Cinta itu suci cinta itu fitrah dari Tuhan…yg menjadi monster cinta bukan cinta itu sendiri tapi manusianya…cinta itu tidak ada kata sakit dan kecewa tapi kecewa dan sakit itu datang setelah tidak ada lagi cinta tapi buta dan tetap bertahan disana disaat cinta sudah tak lagi ada. Cinta hakiki cinta sejati tentu bukan perasaan pada sesama mahluk tapi cinta sejati hanya ada antara Tuhan dan hambanya…cinta terhadap sesama mahluk terkadang akan hilang dan memuakkan disaat cinta itu pergi…tp cinta pada Tuhan…banyak bersyukur cintai diri sendiri dan tuhan akan memberimu cinta yg tak memuakkan…😉

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s