Homesick, home..

Sepagi ini, saya sudah rindu rumah.

Sekiranya selama ini saya belum pernah merasakan apa yang orang-orang sebut homesick. Karena tak pernah berada terlalu jauh dalam waktu yang lama dari rumah, mungkin. Selama mengenyam pendidikan wajib selama sembilan tahun, destinasi harian saya hanya rumah-sekolah-rumah. Saat melepaskan seragam putih abu-abu pun, saya tak melanjutkan jenjang pendidikan tinggi ke luar kota—apalagi pulau.

Sejak berstatus mahasiswa, saya mulai sering meninggalkan rumah dan pernah pergi jauh, tapi tak lama. Paling jauh masih berada di kawasan Indonesia dan paling lama hanya dua minggu. Tak seperti teman-teman lainnya yang harus merantau untuk mendapat gelar sarjana selama tiga sampai enam tahun.

Jadi, saya tak pernah benar-benar meninggalkan rumah hingga kata rindu ada. Jadi, saya rasa saya tak begitu paham apa itu homesick.

Belakangan ini berbeda. Saya mulai paham konsep ‘rumah’ yang sesungguhnya.

Nah, itu dia. Ternyata rumah tak melulu soal di mana saya pergi tidur setelah berkelana seharian dan bangun setiap pagi untuk kemudian bergegas kembali pergi meninggalkannya. Rumah adalah tempat saya dibesarkan. Tempat tumbuh bersama orang-orang serumah. Rumah juga tempat belajar. Rumah tempat saya mulai memahami apa yang tak pernah dipahami, merasakan apa yang belum pernah dirasakan. Tempat saya tumbuh.

Meski tulisan ini saya tulis di dalam rumah yang saya tinggali sejak duduk di sekolah dasar, saya sedang merindukan rumah yang lain. Bangunan yang lain. Katakanlah, itu memang bukan bangunan milik saya. Melainkan milik universitas tempat saya ‘dibesarkan’ dua tahun terakhir.

Dua tahun terakhir. Saya memang banyak menghabiskan waktu di dua rumah. Kami—saya dan teman-teman seorganisasi—selalu menyebut tempat ini rumah. Tentu saja karena kami merasa tumbuh dan besar di sini. Berkembang menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih baik, tentunya. Kami berubah dari waktu ke waktu seiring menuanya rumah ini bersama kami.

Beberapa minggu terakhir saya tak begitu sering mengunjungi rumah kami. Lalu ada satu perasaan aneh yang menghampiri saya. Inikah homesick? Ya, saya terkena serangan homesick!

Saya rindu orang-orang yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Saya rindu merawat dan dirawat rumah itu. Rindu canda, tangis, tawa, deg-degan, emosi, dan segala perasaan yang kami alami bersama. Untuk bagian ini, mungkin hanya orang tertenu saja yang mengerti—orang-orang yang pernah tinggal di rumah yang sama. Saya rindu rumah tanpa jeda itu.

Adakah mungkin rumah yang lain yang saya lewatkan? Barangkali, ada. Rumah adalah di mana ceritamu berawal. Rumah adalah di mana kau merasa nyaman menjadi diri sendiri.

Lantas, apakah selanjutnya organ tubuh manusia juga bisa saya sebut rumah? Semisal jantung atau hati, barangkali? Untuk yang satu ini, entahlah.

Advertisements

3 thoughts on “Homesick, home..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s