Ayah Rangah

Hanya karena ia baginda di kerajaan kecil itu, dibelenggunya massa dalam kebisuan dan masa dalam keheningan yang mengabadi, sementara ia terus berwicara. Dalam ultimatumnya, ia pitawatkan tutur ampun dan komplimen dan tidak dan ya dan jadilah begini-itu dan hormati.

Detik pertama, menit kedua, jam ketiga, hari keempat, bulan kelima, tahun keenam, dan seterusnya, hingga habis bekal kata, ia terus mengulang persamaan. Tak sadar ia; raja yang dermawan, rakyatnya tergugur keangkuhan, sesaat sebelum ia meringis.

Advertisements